• MENCEGAH STUNTING SEJAK DINI

    MENCEGAH STUNTING SEJAK DINI

    Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

    Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya kurang dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3.00 SD (severely stunted).

    Data WHO menunjukkan kasus stunting di Indonesia semakin meningkat. Pada 2013 lalu, presentasenya mencapai 37,2 persen. Sedangkan, menurut Pemantauan Hasil Gizi (PSG) di Indonesia dari tahun 2015-2017 proporsi stunting masih berkisar 20-39%.

    Ciri-ciri stunting pada anak di antaranya pertumbuhan melambat, tanda pubertas terlambat, usia 8-10 tahun anak  menjadi lebih pendiam, peforma buruk pada tes perhatian dan memori belajar, pertumbuhan gigi terlambat, serta wajah tampak lebih muda dari biasanya.

    Stunting bisa disebabkan oleh faktor genetik atau lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh antara lain status gizi ibu, pola pemberian makan terhadap anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak.

    Lalu, bisakah stunting dicegah? Bisa. Ada langkah-langkah sederhana untuk mencegah stunting pada anak. Mulai dari pemeriksan kehamilan secara teratur dan memperhatikan asupan nutrisi saat hamil, menjauhi asap rokok ketika hamil,  lalu memperhatikan asupan gizi yang cukup dan baik untuk ibu hamil dan menyusui. Selanjutnya memberikan nutrisi yang baik pada anak dan juga tetap memberikan ASI eksklusif minimal 6 bulan.

    Tak hanya itu, lingkungan pun perlu diperhatikan di antaranya dengan membiasakan pola hidup yang sehat seperti mencuci tangan pakai sabun, senantiasa membersihkan lingkungan dan menjaga sanitasi.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi protein berpengaruh pada pertambahan tinggi dan berat badan anak di atas 6 bulan. Anak yang mendapat protein 15 persen dari total asupan kalori ternyata memiliki badan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya mendapat protein 7,5 persen dari total asupan kalori. Sumber protein sendiri bisa diperoleh dari nabati (kacang-kacangan, umbi-umbian, biji-bijian, dan sayuran) dan hewani (daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu).

    Mencegah stunting merupakan tugas yang penting bagi orang tua khususnya . Maka dari itu orang tua harus senantiasa selalu memberikan makanan bergizi dan pola asuh yang baik bagi anaknya. Orang tua juga perlu melakukan kunjungan secara rutin dan teratur ke dokter atau pusat layanan kesehatan untuk memantau pertumbuhan anak.

    (Berbagai Sumber)

    Editor: Dr. Yunneti, Sp.A, M.Biomed (Dokter Spesialis Anak RS Kramat 128)

    Leave a reply →

Leave a reply

Cancel reply